Skip to main content
  • Administrator

Benarkah Susu Oat Buruk Bagi Kesehatan Kita?

Selama beberapa tahun terakhir, pergeseran yang nyata telah terjadi dalam preferensi konsumen. Tak sedikit konsumen kini lebih memilih susu nabati (plant-based milk) daripada susu sapi tradisional. Pasar untuk produk alternatif ini telah berkembang pesat, dengan pertumbuhan sebesar 105 juta dolar AS (sekitar 1,5 triliun rupiah), seperti yang dicatat oleh Plant-Based Foods Association. Sebaliknya, industri susu sapi telah mengalami penurunan, yang mengakibatkan kerugian sebesar 264 juta dolar AS (sekitar 3,9 triliun rupiah).

Namun, susu oat (oat milk), pilihan populer di antara alternatif-alternatif tersebut, baru-baru ini mendapat sorotan di media sosial. Kekhawatiran akan dampaknya terhadap kesehatan membuat banyak orang menyerukan boikot terhadap produk ini. Tren ini sebagian besar dipicu oleh influencer di TikTok yang mengampanyekan kewaspadaan terhadap kandungan minyak kanola, lemak, dan gula dalam susu oat.

Carley Nadine, seorang ahli gizi holistik dan influencer di TikTok, telah menarik banyak perhatian dengan videonya yang berjudul “Mengapa Anda harus berhenti minum susu oat”. Video yang telah mendapatkan lebih dari 180 ribu likes ini berargumen bahwa susu oat dapat meningkatkan kadar gula darah, mengganggu hormon, dan berkontribusi terhadap kecemasan dan peradangan.

Carley, yang berasal dari Toronto, Kanada, mengatakan kepada Newsweek bahwa susu oat tidak sesehat yang sering digambarkan. Ia menjelaskan bahwa enzim yang ditambahkan selama produksi susu oat telah memecah pati oat alami menjadi gula, yang berpotensi menyebabkan lonjakan gula darah yang signifikan, terutama ketika dikonsumsi saat perut kosong.

Selain itu, zat aditif dan minyak biji-bijian seperti bunga matahari atau minyak kanola, yang memberikan tekstur dan rasa lembut pada susu oat, umum ditemukan pada kebanyakan produk susu oat. Glifosat, yang juga dikenal sebagai “Roundup”, sering disemprotkan pada tanaman oat untuk mempercepat pengeringan selama panen. Environmental Working Group (EWG) baru-baru ini melaporkan tingginya tingkat residu glifosat dalam banyak produk berbasis oat.

Namun demikian, Lauren McNeil, seorang ahli diet terdaftar dari Toronto, Kanada, telah membagikan video tandingan di TikTok untuk ‘meluruskan’ semua itu. Dia meyakinkan Newsweek bahwa susu oat dapat menjadi bagian dari diet sehat. Dia menekankan bahwa sebagian besar susu nabati yang dibeli di toko diperkaya dengan nutrisi penting, seperti kalsium dan vitamin D. Lauren merekomendasikan untuk memilih susu nabati tanpa pemanis jika memungkinkan, dan menyoroti bahwa tidak ada kerugian yang nyata dalam mengonsumsinya.

Medical News Today telah memberikan beberapa wawasan lebih lanjut, membandingkan kandungan kalori dari berbagai susu. Secangkir susu oat mengandung 130 kalori, kurang dari setengah 259 kalori yang ditemukan dalam secangkir susu sapi. Susu sapi mengandung 31 gram gula, sementara susu oat tidak jauh di belakang dengan 19 gram. Akan tetapi, susu almond dan susu rami tidak mengandung gula sama sekali.

Ayat Sleymann, pemilik Sleyman Nutrition, LLC, berbicara kepada Newsweek untuk menyanggah beberapa mitos yang beredar di internet. Ia menjelaskan bahwa dipotassium fosfat, bahan yang umum ditemukan dalam susu oat, berfungsi sebagai “pengatur keasaman” untuk mencegah susu pecah saat ditambahkan ke dalam kopi. Bahan ini aman bagi masyarakat umum dan menyediakan sekitar 20% dari nilai harian fosfor, nutrisi penting untuk produksi energi dan fungsi tubuh. Namun, ia memperingatkan bahwa individu dengan penyakit ginjal harus memantau asupan fosfor mereka karena ketidakmampuan ginjal untuk mengeluarkannya secara efisien dari tubuh.

Dia juga menepis kekhawatiran tentang minyak canola dalam susu oat. Penelitian telah menunjukkan bahwa minyak canola memiliki manfaat kardiometabolik karena kandungan lemak jenuhnya yang rendah, lemak tak jenuh yang tinggi, dan kandungan asam lemak omega-3 yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kebanyakan minyak lainnya, yang dapat membantu mengurangi kadar LDL dan kolesterol total.

Meskipun mengandung lebih sedikit protein daripada susu sapi perah, susu oat mengandung beta-glukan, yang telah terbukti meningkatkan kadar kolesterol (kolesterol juga tidak boleh terlalu rendah—red) dan membantu mengelola kadar gula darah dari waktu ke waktu. Ini adalah pilihan yang sangat baik bagi mereka yang memiliki alergi kacang atau mereka yang mencoba mengikuti pola makan nabati, kata Ayat.[]


Sumber:

Notarantonio, Lucy. 2022. “Is Oat Milk Really Bad for You? Experts Debunk Social Media Myths”. Newsweek. 10 September 2022. https://www.newsweek.com/oat-milk-vegan-dieticians-nutritionists-health-1740470.

susu oat, oat milk, susu nabati